MAGIC SPELL

Mantra sihir itu berbunyi:

 

“Kalau umat Islam enggan berpolitik, maka nanti orang-orang kafirlah yang akan naik menjadi pemimpin, kan berbahaya itu, maka dari itu umat Islam wajib berpolitik, agar jangan sampai nanti umat Islam di pimpin oleh orang-orang kafir, oleh sebab itu, muslim yang tidak perduli dengan politik, maka akan di pimpin oleh politikus yang tidak perduli dengan Islam”.

 

 

Bismillahirrahmanirrahim,

 

Sesungguhnya ucapan dalam kalimat-kalimat yang ada di atas itu, atau kalimat-kalimat yang semisal dengan itu adalah kalimat-kalimat yang tampak logis, tampak indah, tampak menawan, dan tampak sesuai dengan nalar, akan tetapi di balik kelogisannya, di balik keindahannya, sesungguhnya di dalamnya terdapat tipuan.

 

Sesungguhnya ucapan dalam kalimat-kalimat itu adalah bisikan setan berupa zukhrufal qauli, atau perkataan-perkataan indah dengan tujuan untuk menipu/menyesatkan manusia dari jalan kebenaran yang di bawa oleh para nabi.

 

Dalam hal ini Allah swt berfirman:

 

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan(dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu(manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

QS: Al-An’am 112.

 

Dalam ayat di atas Allah swt menyatakan bahwa Allah telah menjadikan bagi tiap-tiap nabi, (termasuk orang-orang yang menjadi penerus risalahnya) itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan jenis jin, yang mana setan-setan itu membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah dengan maksud untuk menipu/menyesatkan (manusia).

 

Dan contoh tipuannya salah satunya yaitu berupa jargon bahwa berjuang melalui cara parlementer itu boleh, cara semacam itu tidak bertentangan dengan syari’at Islam.

 

Mereka menciptakan zukhrufal qauli untuk menipu manusia,padahal cara yang mereka tempuh itu sesungguhnya adalah cara yang tidak di ridhai oleh Allah swt.

 

Bahwasanya benar bahwa umat Islam itu harus berpolitik, karena di dalam ajaran Islam ada ajaran tentang kepemimpinan umat, maka dari itu umat Islam memang seharusnya berpolitik.

 

Akan tetapi berpolitiknya umat Islam mesti di dalam sistem Islam itu sendiri, yaitu sistem kekhilafahan, karena kekhilafahan adalah wadah yang telah di ajarkan oleh rasulullah saw dan di praktekkan oleh para penerusnya dari kalangan khulafa’urrasyidin dalam menjalankan politik mereka, untuk mengatur urusan umat Islam khususnya, dan umat manusia pada umumnya, dari sejak masa perintisannya, hingga masa kejayaannya.

 

Maka bila kemudian ada orang-orang yang mengaku ingin memperjuangkan syari’at Islam, akan tetapi dengan cara masuk kedalam sistem non-Islam, sesungguhnya apa yang mereka lakukan itu adalah termasuk membuat-buat cara baru di dalam ajaran Islam, khususnya dalam hal cara memperjuangkan syari’at Islam.

 

Dan membuat-buat cara baru di dalam urusan Islam, yang tidak ada contohkan dari Rasulullah saw, maka hukumnya apa yang di buat-buatnya tersebut tertolak.

 

Rasulullah saw bersabda:

 

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak”.

  1. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718.

 

Dan juga apa yang di buat-buatnya itu termasuk pula perbuatan mencampur-adukkan antara yang haq dengan yang bathil, yaitu mencampurkan ajaran Islam yang benar, dengan ajaran selainnya yang bathil.

 

Sedangkan mencampur-adukkan antara yang haq dengan yang bathil adalah sesuatu yang di larang oleh Allah swt.

 

Dalam hal ini Allah berfirman:

 

وَلا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah kalian campur adukkan yang hak dengan yang batil, dan janganlah kalian sembunyikan yang hak itu, sedangkan kalian mengetahui.

QS: Al-Baqarah 42.

 

Mencampur-adukkan antara yang haq dengan yang bathil adalah perbuatan yang akan mengotori kemurnian iman seseorang, oleh sebab itu Allah kemudian melarangnya.

 

Sekarang mari kita kaji tentang bathilnya sistem demokrasi.

 

Sistem demokrasi adalah sistem yang bukan berasal dari ajaran Islam, ia bukan ajaran yang berasal dari wahyu Allah yang di turunkan kepada salah seorang rasul di antara para rasulnya.

 

Ia adalah ajaran yang berasal dari wahyu setan yang di ilhamkan kedalam pikiran orang-orang kafir (kaum penyembah pagan) pada zaman Yunani kuno, yang kemudian di adopsi oleh orang-orang perancis pada sekitar abad ke 17, dan kemudian pada abad modern ini di adopsi oleh Amerika, lalu di sebarkan kesuluruh penjuru dunia.

 

Maka dari itu, karena sumber ajaran Demokrasi bukan berasal dari wahyu Allah, akan tetapi berasal dari wahyu setan yang di ilhamkan kedalam pikiran orang-orang kafir, tentu yang ada di dalamnya adalah hal kekafiran.

 

Dan agar di ketahui,bahwa sesungguhnya demokrasi itu adalah Dien, atau Agama, atau Jalan Hidup, sebagaimana Dien atau Agama Yahudi, Agama Nashrani dan lain-lainnya.

 

Maka dari itu, barang siapa yang mengambilnya, atau memeluknya sebagai jalan hidupnya, berarti ia adalah seorang yang beragama Demokrasi.

 

Maka orang-orang Islam yang mengambil Demokrasi sebagai jalan hidupnya, sesungguhnya ia adalah orang yang beragama Demokrasi, dan itu artinya ia telah murtad dari Dienul Islam.

 

Seseorang yang mengaku ingin memperjuangkan syari’at Islam, akan tetapi dengan cara masuk kedalam sistem Demokrasi, lalu ikut berkompetisi untuk menjadi pemimpin di dalam sistem tersebut, atau untuk menjadi legislator dalam sistem tersebut, sejatinya ia adalah orang yang sedang berupaya untuk menjadi Rabb, atau ingin menjadi Tuhan pengatur.

 

Maka mana kala ia meminta dukungan kepada umat untuk mendukungnya agar menjadi pemimpin, atau untuk menjadi seorang legislator di dalam sistem tersebut, ucapan permintaan dukungannya itu maknanya sama dengan ia sedang berkata kepada umat dengan ucapan:

 

“Mari dukung saya, agar saya menjadi Rabb atau Tuhan pengatur, yang nanti akan menjadi rival Allah dalam hal menetapkan hukum untuk mengatur kehidupan kalian.

Dan nanti kalian harus mendahulukan hukum yang saya buat dari pada hukum yang di turunkan Allah.

Kalian boleh-boleh saja menggunakan hukum Allah, asalkan harus melalui persetujuan saya terlebih dahulu.

Jika nanti saya setuju, maka kalian boleh menggunakannya, tetapi jika saya tidak setuju, maka kalian tidak boleh menggunakannya.

Dan jika kalian tidak mematuhi perintahku ini, maka kalian akan aku penjarakan”.

 

Begitulah kira-kira terjemahan di balik kata-kata:

 

“Mari dukung saya dengan cara mencoblos no urut…”.

 

Padahal sejatinya hak menetapkan hukum untuk mengatur kehidupan manusia dan alam semesta itu bukan milik manusia, akan tetapi ia adalah haknya Allah.

 

Dalam hal ini Allah swt berfirman:

 

…إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ

…Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah, Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.”

QS: Al-An’an 57.

 

Dalam surat Al-An’am ayat 57 di atas Allah menyatakan, bahwasanya menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah, maka karena hak menetapkan hukum itu hanya miliknya Allah, ketika kemudian ada manusia yang berani menetapkan hukum yang lain selain dari pada hukum yang telah Allah turunkan untuk mengatur kehidupan, itu artinya ia ingin menjadi pesaing Allah dalam hal menetapkan hukum, dan itu artinya ia adalah tandingan atau andad Allah, padahal dalam ayat di atas, Allah telah menjelaskan bahwa dia (Allah) adalah pemberi keputusan yang paling baik, akan tetapi orang-orang kafir tidak mempercayainya.

 

Dalam hal ini Allah berfirman:

 

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

QS: Al-Baqarah 165.

 

Dalam surat Al-Baqarah ayat 156 di atas Allah menyatakan, bahwasanya di antara manusia itu ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencitai Allah.

 

Ini artinya, bahwasanya ada di antara orang-orang Islam itu yang menjadi penyembah tandingan-tandingan Allah, atau Arbab yang lain selain Allah, dan mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah.

 

Padahal Allah itu adalah dzat yang pecemburu, ia akan sangat murka mana kala ada hambanya yang menyetarakannya dalam penyembahan dan kecintaan dengan makhluknya.

 

Oleh sebab itu, maka orang-orang yang melakukan hal itu, ia akan di labeli Allah dengan label sebagai orang-orang musyrik.

 

Maka orang-orang yang menjadi pelaku penyembahan kepada selain Allah yang di ceritakan dalam ayat di atas itu sesungguhnya mereka adalah orang-orang musyrik.

 

Dan obyek yang menjadi tandingan-tandingan Allah yang di cintai oleh penyembahnya sebagaimana mereka mencintai Allah yang di sebutkan dalam ayat di atas, sejatinya mereka itu adalah para pemimpin kesesatan, yang tentunya mereka adalah para pemimpin yang memimpin dengan hukum selain hukum Allah.

 

Maka memilih atau mengikuti pemimpin yang semacam itu, itu sama artinya telah menjadi penyembahnya, dan karena makna penyembahan atau ibadah itu adalah ketaatan, maka bila ada manusia yang mengikuti atau mentaati pemimpin yang menetapkan hukum selain hukum Allah, itu artinya sama dengan ia menjadi penyembahnya, dan orang-orang yang menjadi pelakunya berarti ia adalah orang-orang musyrik.

 

Allah berfirman:

 

“…Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

 

Firman Allah yang berbunyi,

 

“orang-orang yang berbuat zalim”

 

Dalam lanjutan ayat di atas itu menunjukkan bahwa orang yang mengikuti atau mentaati pemimpin dalam kesesatan berarti dia adalah orang-orang musyrik, sehingga kemudian Allah mengandaikan, jika seandainya ia tahu bahwa kekuatan itu milik Allah semuanya, dan bahwa Allah sangat berat siksaannya, tentu ia akan menyesal, yaitu menyesal karena telah mengikuti atau mentaati pemimpin kesesatan tersebut.

 

Yaitu menyesal karena pada hari kiamat nanti ternyata pemimpin yang di ikutinya itu akan berlepas diri dari tanggung-jawab terhadap penyembahan yang di lakukannya kepadanya, dan juga ketika segala hubungan yang ada di antara mereka saat di dunia, termasuk hubungan dinas telah terputus sama-sekali.

 

Allah berfirman:

 

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الأسْبَابُ

(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.

QS: Al-Baqarah 166.

 

Kemudian saat setelah mereka masuk ke neraka, setelah ia tahu bahwa pemimpin yang di ikutinya/yang di sembahnya ternyata berlepas diri dari tanggung-jawab terhadap penyembahannya, dan hubungan yang pernah ada di antara mereka telah terputus sama-sekali, kemudian ia pun berharap/berandai-andai jika seandainya ia bisa kembali lagi kedunia, maka ia akan berlepas diri dari penyembahan kepada pemimpin yang di ikutinya tersebut, karena ia telah tahu, bahwa dosa syirik yang di lakukannya dengan cara mentaati pemimpin kesesatan tersebut telah mengekalkannya di neraka.

 

Kemudian setelah itu Allah menyatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan bisa keluar dari api neraka.

 

Allah berfirman:

 

وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ

Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.

QS: Al-Baqarah 167.

 

Begitulah kerugian yang di dapat bagi orang-orang kafir di akhirat nanti, yaitu orang-orang yang menjadi pengikut atau penyembah pemimpin kesesatan, mereka adalah orang-orang yang tidak beruntung, karena mereka itu adalah orang-orang musyrik yang kekal di dalam neraka.

 

Allah berfirman:

 

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

Dan barang siapa yang menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.

QS: Al-Mu’minun 117.

 

Dan Allah juga berfirman:

 

إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا

Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka),

QS: Al-Ahzab 64.

 

خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلا نَصِيرًا

mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong.

QS: Al-Ahzab 66.

 

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَ

Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula)kepada Rasul.

QS: Al-Ahzab 66.

 

وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَ

Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).

QS: Al-Ahzab 67.

 

رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

Ya Tuhan kami, berilah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.

QS: Al-Ahzab 68.

 

Allah juga berfirman:

 

قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ فِي النَّارِ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَعَنَتْ أُخْتَهَا حَتَّى إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لأولاهُمْ رَبَّنَا هَؤُلاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَكِنْ لَا تَعْلَمُونَ

Allah  berfirman, “Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kalian. Setiap kali suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk ke dalam semuanya, berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, “Ya Tuhan kami. mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka.” Allah berfirman, “Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, tetapi kalian tidak mengetahui.”

QS: Al-A’raf 38.

 

Orang-orang musyrik, yaitu pemimpin kesesatan dan pengikut pemimpin kesesatan, akhir dari nasib mereka adalah akan bersama-sama masuk kedalam neraka, dan akan kekal tinggal di sana, di karenakan mereka itu adalah orang-orang kafir.

 

Dan di antara mereka, yaitu orang-orang musyrik itu, adalah orang-orang yang menjadikan dirinya sebagai andad Allah, atau menjadikan dirinya sebagai Rabb, atau tuhan pembuat syari’at yang menjadi pesaing hukum-hukum Allah, beserta para pendukung atau pengikut mereka.

 

Maka para pemimpin dan pembuat hukum dalam sistem non-Islam beserta para pendukungnya, sesungguhnya mereka itu telah masuk kedalam kategori sebagaimana yang di sebutkan di atas itu.

 

Oleh karena itu cara berjuang menegakkan Dienullah dengan cara masuk kedalam sistem non-Islam, ternyata hal tersebut sesungguhnya malah menjadikan pelakunya terjebak menjadi orang-orang musyrik.

 

Maka dari itu, sudah semestinya umat islam menjauhi cara berjuang dengan cara yang keliru semacam itu, atau menjadi pendukung orang-orang yang berjuang dengan cara semacam itu.

 

Maka jika ingin selamat dari kekafiran atau kesyirikan,umat Islam harus berbara’ah dari sistem non-Islam dan para pelakunya.

 

Untuk itu, jika umat islam benar-benar ingin merealisasikan perintah Allah untuk menegakkan Dien-nya, atau menegakkan hukum-hukumnya, tiada jalan lain bagi mereka kecuali dengan cara bersatu di dalam penegakkannya itu.

 

Allah berfirman:

 

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).

QS: Asy-Syura 13.

 

Dalam ayat di atas Allah telah mensyari’atkan kepada nabi Muhammad saw, dan juga telah mewasiatkan hal yang sama kepada nabi Nuh as, Ibrahim as, Musa as, dan ‘Isa as, yaitu agar mereka menegakkan Dienullah, hukum-hukum Allah, dengan cara tidak bercerai-berai.

 

Lawan dari bercerai-berai adalah bersatu, maka bersatu dalam upaya menegakkan hukum-hukum Allah adalah sebuah kewajiban yang mesti di kerjakan oleh setiap muslim.

 

Dan bersatu yang benar adalah bersatu sebagaimana yang pernah di amalkan oleh rasulullah saw dan khulafa’urrasyidin.

 

Dan sebagai orang-orang yang mengaku menjadi pengikut mereka, sudah semestinya kita ittiba’ kepada sunnah yang pernah mereka lakukan, hal ini sebagaimana wasiat rasulullah saw di saat menjelang wafatnya.

 

عَن عَبدِ الرَّحمٰنِ بنِ عَمرٍو السَّلَمِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ العِربَاضَ بنَ سَا رِيَةَ يَقُلولُ

”وَعَظَنَا رَسُو لُ اللّٰهِ صَلَّ اللّٰهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ مَو عِظَةً ذَرَفَت مِنهَا العُيُونُ وَوَجِلَت مِنهَا القُلُوبُ، فَقُلنَا يَا رَسَول اللّٰهِ إِنَّ هٰذِهِ لَمَو عِظَةٌ مُوَدِّعٍ فَمَاذَاتَعهَدُ إِلَينَا؟، قَالَ قَد تَرَکتُکُم عَلَی البَيظَاءِ لَيلُهَا کَنَهَارِهَالَا يَزِيغُ عَنهَا بَعدِی إِلَا هَا لِكٌ مَن يَعِش مِنکُم فَسَيَرَی اختِلَا فًا کَثِيرًا فَعَلَيکُم بِمَاعَرَفتُم مِن سُنَّتِی وَ سُنَّتِی الخُلَفَاءِ الرَّا شِدِينَ المَهدِيِّينَ عَظُّوا عَلَيهَا بِالنَّوَاجِذِ وَ عَلَيکُم بِا الطَّا عَتِ وَإِن عَبدًا حَبَشِيًّا فَاءِنَّمَا المُٶ مِنُ کَا الجَمَلِ الأَنِفِ حَيثُمَا قِيدَ انقَادَ“

رواه ابن ما جه.

 

Dari Abdurahman ibnu Amrin As-Salamiy sesungguhnya dia mendengar Irbadh bin Sariah berkata:

“Rasulullah saw memberi nasehat kepada kami dengan suatu nasehat yang membuat mata kami bercucuran air mata, dan membuat hati kami takut, lalu kami berkata, “Wahai rasulullah,sesungguhnya ini adalah nasehatnya orang yang hendak berpisah,lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami?”, beliau saw bersabda, “Sungguh aku telah tinggalkan kalian di atas sesuatu yang putih (ajaran Islam), malamnya bagaikan siangnya, tidak menyimpang darinya setelahku kecuali dia akan menjadi orang yang celaka, barang siapa di antara kalian yang masih hidup (sepeninggalku), maka dia akan menyaksikan banyak perselisihan, (untuk itu) hendaklah kalian berpegang kepada sunahku dan sunah Khulafa’urrasyidin Al-Mahdiyyin (para Khalifah yang benar yang mendapat petunjuk), gigitlah sunah tersebut dengan gigi geraham kalian, dan hendaklah kalian taat meskipun di pimpin oleh budak bangsa habsyi, karena sesungguhnya orang islam itu seperti unta yang di pasangi tali kendali, kemanapun dia di tarik, kesitu dia mesti turut”.

HR: Ibnu Majah.

 

Dan sesungguhnya, sunnah yang rasulullah saw ajarkan dalam hal bersatu dalam upaya penegakkan ajaran Islam, yang kemudian di amalkan oleh khulafa’urrasyidin dan jama’atul muslimin pada masa sepeninggal rasulullah saw, adalah bersatu di dalam Kekhalifahan Kaum Muslim.

 

Rasulullah saw bersabda:

 

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُم الأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ

Dahulu Bani Israil selalu di pimpin oleh para nabi, Setiap kali seorang nabi wafat, nabi lain menggantikannya, Namun tidak akan ada nabi lagi setelahku, dan yang akan ada adalah para khalifah, sehingga berjumlah banyak.

HR Muslim.

 

Dalam hadits di atas, rasulullah saw menyampaikan kepada kita tentang kepemimpinan Islam, yang mana kepemimpinan Islam di masa bani Israil, para pemimpinnya adalah para Nabi,dan itu berlangsung hingga masa Nabi Muhammad saw.

 

Namun setelah Nabi Muhammad saw wafat, Kenabian telah berakhir, sehingga kepemimpinan Islam tersebut kemudian di lanjutkan oleh kepemimpinan para Khalifah,dan hal ini kemudian benar terjadi dalam sejarah Islam, bahwa sepeninggal Nabi Muhammad saw, umat Islam kemudian hidup di dalam Kekhalifahan Islam dengan di pimpin oleh para Khalifah.

 

Maka di sinilah, yaitu di dalam Kekhalifahan Kaum Muslim, semestinya umat islam bersatu dalam rangka berjuang menegakkan Dienullah, atau berjuang menegakkan hukum-hukum Allah, sebagaimana yang dulu pernah Allah perintahkan kepada nabi Muhammad saw untuk menegakkan Dienullah, dan juga apa yang telah di wasiatkannya kepada empat nabi ulul azmi.

 

Bedanya, kalau para nabi zaman dahulu berjuang menegakkan Dienullah dalam sistem Kenabian, tetapi kalau kita saat ini berjuang menegakkan Dienullah adalah di dalam sistem Kekhilafahan.

 

Maka dari itu, mari wahai umat Islam, kita bersatu dalam rangka berjuang menegakkan Dienullah di dalam sistem Kekhilafahan Kaum Muslim.

 

Wallahu a’lamu.

2398total visits,4visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *