KHILAFATUL MUSLIMIN bukan HIZBUT TAHRIR

Ahlu sunnah wal jama’ah, sepakat (ijmak) bahwa menegakkan khilafah adalah wajib hukumnya, Para ulama juga sepakat (ijmak) tentang wajibnya mengangkat seorang pemimpin untuk kaum muslimin. Sebagaimana diterangkan oleh banyak ulama salaf seperti Al-Qurthubi, Ibnu Katsir, Al-Haitami dll. Beberapa ulama yang mentransmisi ijmak ini adalah Al Mawardi dalam “al Ahkaam al Sulthaniyyah”, Abul Ma’aaly al Juwainy dalam “Ghiyaatsu al Umam”, al Qadhi Iyadh dalam “Ikmal al Mu’lim”, An Nawawi dalam “Syarh Shahih Muslim”, dan banyak lagi yang lainnya.

Lantas, apa hubunganya dengan Khilafatul Muslimin dan Hizbut Tahrir ??, Kedua Gerakan Islam ini dikenal memiliki fokus kerja yang sama yaitu tegaknya Kekhalifahan Islam. Bahkan Hizbut Tahir Internasional yang dipelopori oleh Syech Taqiyyudin An nabhani sejak tahun 1953 telah mulai mewacanakan dan menawarka ide khilafah sebagai solusi atas berbagai persolan dunia. Sedangan Khilafatul Muslimin, telah memaklumatkan kekhalifahan Islam sejak tanggal 18 Juli 1997.

Diskusi panjang antar dua gerakan islam ini telah sampai pada satu kesimpulan, bahwa kedua gerakan memiliki cara pandang yang berbeda dalam memahami kekhalifahan. Titik perbedaanya terletak pada, adanya syarat kekuasaan yang menjadikan sah atau tidaknya sebuah kekhalifahan. Hizbut tahrir memahami, bahwa sebuah kekhalifahan, haruslah memiliki kekuasaan, sehingga dengan kekuasaan tersebutlah, maka islam akan bisa tegak dengan sempurna. Sedangkan Khilafatul Muslimin memahami, bahwa kewajiban berkhilafah (berjamaah) tetaplah sebuah kewajiban yang harus segera direalisasikan, meskipun belum memiliki kekuasaan. Dari pemahaman inilah lahir Maklumat KHILAFATUL MUSLIMIN tahun 1997. Tentunya masing-masing pihak memiliki dasar dalil yang menguatkan pendapatnya.

Bahwa sempurnanya pelaksanaan Dienul Islam membutuhkan kekuasaan itu tidak bisa kita nafikan. Bahkan Khalifah Ustman bin Affan pernah menyampaikan, Sesungguhnya, Allah akan benar-benar menghilangkan kemungkaran melalui tangan penguasa, yang tidak bisa dihilangkan oleh Al Quran”. (Al Hisbah, Hal. 326 (Hikam wa Aqwaal ash shahabah).

Sebagai contoh persoalan Korupsi, persoalan ini tidak selesai hanya dengan ceramah-ceramah saja. Tapi akan lebih efektif jika pelaku korupsi ditangkap dan diadili oleh pengadilan yang dipastikanya keadilanya, setelah terbukti secara sah dan menyakinkan telah terjadi pelanggaran, kemudian si pelaku dijatuhi hukum syariat atasnya (Potong tangan), maka insyaallah persolan korupsi akan bisa dikikis habis. Dan untuk bisa terlaksana hal ini membutuhkan adanya otoritas kekuasaan.

Kalau kita bertanya kepada Al Quran tentang persoalan kekuasaan maka Al Qur’an akan memberikan jawaban di dua ayat-Nya :

  • Pertama : Kekuasaan (Kejayaan dan Kehancurkan) akan Allah pergilirkan diantara manusia (QS 3:140). Jadi kalau hari ini Amerika menjadi Penguasa Dunia, hakikatnya adalah karena Allah menghendaki. Pun begitu jika hari ini Bapak Jokowi menjadi Presdien RI, itu juga tidak lepas dari kehendak Allah. Dalam Persoalan memiliki kekuasaan atau belum memiliki kekuasaan, kita sebagai seorang yang beriman menyerahkan sepenuhnya kepada ketetapan Allah, karena memang begitulah semestinya. Dan Insyaallah dalam waktu yang Allah tentukan nantinya Kekuasaan itu akan dipergilirkan kepada kaum Muslimin.
  • Kedua : Kekuasaan adalah Janji sekaligus Karunia dari Allah SWT bagi orang yang (benar) dalam Iman, dan (benar) dalam Amal Sholeh. (QS 24:55), artinya berdasarkan Ayat ini, kaum muslimin sebenarnya hanya diminta Allah SWT untuk meng-genap-kan syarat, sehingga Dia yang mustahil mengingkari JanjiNya, akan segera merealisasikan janji kekuasaan tersebut. syaratnya adalah Iman dan Amal Sholeh yang benar dan dibenarkan oleh Allah dan RasulNya. Berdasarkan Ayat diatas. Karena sesungguhnya memberi atau mencabut kekuasaan dari seseorang adalah Pekerjaan Allah.

Diskusi persoalan khilafah memang tidak ada habisnya. Bahkan sudah beribu-ribu ulama yang menulis, membahas, atau sekedar berkomentar tentang kekhalifahan. Ia juga sebenarnya adalah keinginan sekaligus kerinduan kaum muslimin. Untuk hidup aman, damai, dan sejahtera dibawah naungan aturan Agamanya.

Mengutip kalimat akhir dari Ust. Abdul Qadir Baraja’ ketika ada pertemuan tingkat Pimpinan antara Ust. Ismail Yustanto dan Ust. Baraja adalah bahwa ada dua pertanyaan yang berbeda, tetapi jawabnya sama.

Pertanyaan untuk Khilafatul Muslimin : Anda sudah memaklumatkan kekhalifahan, Kapan Syariat Islam bisa dilaksanakan dengan sempurna??

Pertanyaan untuk Hizbut Tahrir : Bersatu atau berjamaah wajib secara mutlak, dan praktek bersatu sesuai contoh sahabat adalah dalam wadah Khilafah, kapan Hizbut Tahrir merealisasikan perintah bersatu/berjamaah ini ??

Jawabnya sama : Wallahu’alam..

Dua Pemahaman ini melahirkan tindakan yang berbeda. Tapi yang PASTI-nya Era Khilafah telah semakin dekat (Insyaallah), sambut dan hadiri Silaturrahim dan SYIAR KEKHILAFAHAN ISLAM se-DUNIA, Jakarta, 17-18 November 2018.

 

Sie Publikasi dan Informasi

081380770389 – Wuri Handoyo
081388248748 – Ghulam Shidiq

2907total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *