PENTINGNYA KEPEMIMPINAN

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (Al-Quran surat At-Taubah : 128).

Manusia adalah makhluk sosial yang saling mem-butuhkan dan tidak bisa hidup sendiri-sendiri. Oleh karena itu memerlukan suatu kesepakatan atau kesamaan pandangan, untuk mengatur kehidupan manusia itu sendiri. Seluruh makhluk Allah yang ada di muka bumi ini akan mendapatkan kasih sayang yang disebut rahmatan lil ‘ alamin. Agar risalah rahmatan lil ‘alamin yang dibawa Rasulullah ini tercapai maka diperlukan pembagian tugas untuk mengatur segala permasalahan yang timbul dalam kehidupan di dunia di segala aspeknya. Pembagian atau pengaturan tugas ini tidaklah akan terlaksana tanpa kepemimpinan. Maka kepemimpinan dalam rangka pembagian tugas ini yang menurut Rasulullah bahwa tugas itu tidak bisa diberikan pada orang yang bukan ahlinya karena akan mendatangkan kehancuran. Oleh karena itu untuk bisa menjadikan seseorang berfungsi sesuai bidangnya perlu pembagian tugas dalam struktural agar seluruh manusia atau makhluk mendapat keadilan (rahmat Allah).

Jadi seorang pemimpin harus bersifat benar-benar beriman, kuat tekad untuk menjadikan ummatnya sukses sejahtera lahir batin dunia dan akhirat dia merasa bersedih bila ummatnya kesusahan, keikhlasannya sebagai pemimpin merupakan sifat-sifat yang menyatu dalam dirinya sesuai dengan maksud ajaran ini bahwa kehidupan ummat ini harus dipimpin untuk mencapai kebahagiaan lahir batin, oleh karena itu struktural yang kita terapkan tidak bisa struktural yang sembarangan karena suatu ajaran itu sukses atau tidaknya terletak pada baik buruknya struktural itu sendiri, baik itu ajaran batil ataupun haq. Bila struktural kepemimpinannya kacau maka gagal-lah misi kepemimpinan itu. Tetapi kalau dia sukses dalam kepemimpinannya maka akan berakibat baik pula pada sistem strukturalnya.

Dalam praktek kehidupan berja-ma’ah, disiplin struktural bisa diterapkan, sebagai contoh, kaitannya dengan undangan struktural. Ketika seseorang mendapat undangan struktural mestinya berpikir bahwa dia telah mendapat undangan kehormatan dan kemuliaan karena membawa misi rahmat bagi semesta alam, bukan keinginan sesaat atau kepentingan golongan tertentu. Jadi kalau sampai berhalangan karena ada kepentingan atau undangan lain sampai meremehkan undangan struktural maka dia telah berbuat pada posisi yang keliru karena lebih mementingkan pribadi daripada undangan struktural, karena di sana ada sami’na wa atho’na bukan kepada pribadi tetapi kepada kepemimpinan. Jadi ketika tidak ta’at tatkala ada perintah struktural, undangan struktural atau larangan struktural maka dia langsung berada pada posisi maksiat. Akibatnya tidak akan turun rahmat pada siapapun yang posisinya maksiat karena rahmat itu hanya turun pada keta’atan. Sam’an wa tho’atan hanya ada pada kepemimpinan dan strukturalnya.

Sedangkan kepemimpinan yang lain seperti kepemimpinan karangan orang-orang jaman sekarang, tidak ada masalah mau dita’ati atau tidak karena tidak mengandung ancaman neraka atau janji-janji surga juga tidak ada perintah sam’an wa tho’atan dari Allah dan Rasul-Nya. Jadi bukan pemimpin itu sendiri yang mengharapkan dita’ati tetapi perintah langsung Allah dan Rasul-Nyalah yang memerintahkan karena dalil Al-Quran dan Sunnahpun telah jelas. Sebaliknya merupakan bahaya yang besar sekali apabila ada orang yang menginginkan tegaknya khilafah tetapi tidak mau konsekwen mentaati pemimpinnya dan lebih bahaya lagi apabila pemimpin itu tidak memiliki sifat-sifat mengayomi ummat, tidak memikirkan kesejahteraan ummat bahkan Rasulullah mengancam apabila kepemimpinan itu menipu ummat maka mustahil masuk surga.

Adakah pemimpin yang mem-prioritaskan ummat sekarang? Bila ada kepemimpinan yang tidak memen-tingkan ummat dan hanya memen-tingkan kepemimpinan pribadi maka itu adalah kepemimpinan thaghut. Semua aturan bisa dibuat sendiri, bila ada perselisihan atau merugikan maka hukum atau aturan itu yang akan tetap menang. Akan tetapi dalam kepemimpinan Islam, siapapun yang salah baik pemimpin atau ummat, yang mutlak menentukan salah atau benarnya adalah Allah dan Rasul-Nya bukan pemimpin tadi. Jadi apapun kiprah atau kebijaksanaan sang pemimpin konotasinya adalah untuk kesejahteraan ummat. Sehingga peluang untuk masuk surga adalah merata bagi seluruh orang yang beriman yang bekerja keras sesuai dengan bidangnya masing-masing (struktur yang telah dia terima). Karena struktur yang ada sekarang ini juga tidak mencontoh sistem modern atau sistem-sistem jahiliyah lain tetapi mencontoh pada kepemimpinan Rasulullah (Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 21) :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah”.

Yang kita perlukan adalah apa yang sudah bisa kita berikan pada kepemimpinan ummat Islam sekarang bukan apa yang bisa kita manfaatkan saat kita berada dalam kepemimpinan ini. Seorang pemimpin harus bisa mengatakan apa yang bisa saya korbankan untuk ummat, demikian juga ummat harus bisa mengatakan apa yang bisa diberikan untuk kepentingan kepemimpinan sehingga terjadi keseimbangan.
Berjihad di jalan Allah akan sangat terasa ringan bila kita mampu berkorban, apabila kita susah dan berat untuk berkorban maka bagaimana kita bisa mengamalkan ayat-ayat jihad…? Sebagai contoh ketika struktural menuntut infaq, kita harus memenuhi sebagai ummat atau pemimpin untuk berkorban demi kepentingan bersama untuk kejayaan Islam dan Muslimin (’izzul Islam wal muslimin).

Sampai saat ini struktural ummat Islam belum ada nilainya dalam pandangan dunia, terbelakang dan tidak berwibawa. Tetapi segala puji bagi Allah atas perkembangan jama’ah struktural Khilafatul Muslimin yang semakin hari semakin signifikan (pasti/ terperinci) dengan terus bertambah jumlah dan wilayah yang peduli. Walaupun dunia belum menerima secara penuh tapi kita berharap pada skenario Allah yang berjanji akan memberikan kekuasaan dunia pada saat ummat setempat menerima dan mendukung sistem tersebut. Hal ini merupakan rahasia Allah, kita hanya patut melaksanakan dengan penuh kesungguhan tidak boleh bermalas-malasan, sehingga tibalah pada saatnya kita akan diberikan Allah kemenangan tersebut. Insya Allah….

1590total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *